Selasa, 26 Agustus 2014

Haul: Réserve Naturelle

Some times ago in one of my posts, I once stated that Réserve Naturelle is a high-end make up brand. It turns out that I was wrong. Last week when I was strolling around in the centre ville of Grenoble, out of curiousity I entered the gallery of Réserve Naturelle and I found out that they were all cheap stuffs. They are even cheaper than Kiko, but I guess the quality is still under Kiko (still a suggestion since I haven't tried the cosmetic products).

Réserve Naturelle is a French make up and accessories brand, but nearly all the products are made in Italy. They come in boutiques and also online, you can access the site on http://www.reserve-naturelle.com (fyi, it's in French).

I went there again yesterday and I got out of the gallery with two things in the cute paper pouch: le Nettoyant pour les Pinceaux Sans Rinçage (no-rinse brush cleanser) and the Adopt' Eau de Parfum Fleur de Cerisier (cherry blossom).


I've been looking for a sprayed brush cleanser, a cheap one of course, like the one ELF had. But since the access to an ELF boutique is really hard here, I had to find another brand which gets a similar product. When I was checking out RN's website, I found that they got this brush cleanser only for 5,90 euros. In the gallery, you can find this product under the shelf of nail accessories, still in a group with the big-bottled perfumes.


The simple white bottle contains 125 ml of the liquid product, with a standard pump and sprayer. How to use: simply spray the product onto the brush you want to clean, then wipe the brush onto a piece of tissue. Real simple and quick.

I tried it out yesterday onto my ELF Powder Brush and it was pretty wonderful. The residue of the powder I used directly came off and my brush got cleaned again (yay!). The only downside of this product is the strong fragrance you smell right after you spray it. I guess it's because the alcohol contained in the formula. But it leaves a sweet and soft fragrance after the alcohol evaporated.

This brush cleanser works well for daily uses, even so I'll use it for each two days.

The next product is the Adopt' Eau de Parfum Fleur de Cerise. I only tried the perfumes for fun, but it turned out that I love this one so much. I always love the cherry blossom fragrance and this one is one of the best cherry blossom fragrance I've ever smelled.


The clear, light, travel-friendly bottle contains 30 ml eau de parfum. I was surprised of the existence of this cheap eau de parfum as I usually find them in the expensive prices (the cheapest I found was for 25 euros), so I had to stick with the eau de toilettes whom the fragrance doesn't last really long.

This one, as the other eau de parfums do, stay a long time, keeps you fresh and smell nice. From now on I'm wearing this perfume for its durability and hella cheap price.

Maybe I'll come back again to the RN gallery in the future to buy some cosmetics items.

first review in english yay

See ya around, folks.


Senin, 25 Agustus 2014

College Daily Make Up

Gue sudah kembali menginjakkan kaki di tanah Prancis, setelah dua bulan liburan yang menyenangkan di Indonesia. Artinya? Yap, tahun ajaran baru akan segera dimulai! Dan bukankah tidak afdol bagi seorang beauty blogger untuk tidak membuat sebuah blog post tentang make up harian untuk ke kampus di awal tahun ajaran ini?

*cailah bahasanya*

Oke, untuk tahun ajaran 2014/2015 ini, gue memulai tahun ajaran dengan menggunakan make up yang sepertinya nggak akan jauh berbeda dari tahun ajaran sebelumnya, hanya ketambahan beberapa item aja (dan itu pun nggak signifikan). Sepertinya lebih asik kalau dibikin dalam bentuk list biar kalian yang membaca jadi gampang, hehe.

Abaikan barang-barang berserakan di belakangnya. Maklum, saya himono-onna.

1. Cleansing


Jangan lupa bersihkan muka sebelum memakai make up! Ini sih peraturan standar, ya. Dan seperti kemarin-kemarin, gue masih setia dengan Dove Beauty Cream Bar gue.

2. Toning


Masih dalam rangka natural skin care sekaligus penghematan besar-besaran, gue masih menggunakan seduhan bunga chamomile sebagai toner. Aplikasinya seperti toner biasa, cuma seminggu sekali harus diganti sama air seduhan baru aja.

3. Moisturizing


Pelembab adalah benda skin care nomor satu yang harus kamu gunakan ketika kamu, yang berasal dari tanah beriklim tropis, berpindah ke tanah beriklim subtropis. Udara di sini jauh lebih kering daripada udara di Indonesia. Kulit gue yang tadinya kombinasi berminyak aja langsung berubah jadi kombinasi kering di sini. Saat ini gue masih memakai pelembab Mixa Crème Visage des Peaux Sensibles (Mixa Face Cream for Sensitive Skin).

4. Sunblock


Ini ya, produk wajib perawatan wajah buat semua wanita. Di manapun kamu tinggal, iklim macam apapun yang ada di sana, tiap pagi sebelum ke luar rumah kamu wajib pakai sun block, minimal SPF 30. Yah, kecuali kamu mau keriputan dan punya flek-flek hitam di usia pertengahan 20-an, sih.

Kalian yang nggak mau repot-repot untuk pake pelembab dan sunblock terpisah atau yang merasa kulitnya terlalu berminyak untuk ditumpukin kebanyakan produk bisa pake sunblock yang udah mengandung pelembab juga, kok.

Gue masih setia dengan Garnier Ambre Solaire Sensitive Expert gue. Yah, karena saking gedenya dan belum habis juga.

5. BB Cream


Gue dulu pernah menggunakan BB cream sebagai pengganti sunblock karena gue nggak tau fungsi BB cream yang sebenarnya, tapi sekarang gue udah tobat seiring gue tau fungsi BB cream yang sebenarnya. BB cream baru kali ini gue gunakan dalam basis harian karena gue belum pede untuk pakai foundation dalam basis harian. Gue masih ingin terlihat muda.

BB cream yang gue gunakan adalah Kiko BB Cream SPF 15 shade nomor 2, Natural (review menyusul!). Gue nggak pernah pakai terlalu banyak BB cream, cukup untuk menyamarkan noda-noda dan meratakan warna kulit aja.

6. Concealer


Concealer sebenernya bukan benda wajib harian gue, cuma gue pakai kalau gue lagi pakai lensa kontak. Mata gue dilingkari dengan lingkaran hitam yang cukup parah seiring kebiasaan buruk gue untuk tidur larut malam. Concealer cukup untuk membuat gue nggak terlihat terlalu letih dan capek.

Concealer yang gue gunakan adalah Oriflame Studio Artist Concealer shade Light yang gue ambil dari rak make up Nyokap gue. Sungguh anak tak bermodal.

7. Powder


Bedak di atas segalanya, udah pada tau ya harusnya. Untuk kalian yang kulitnya sangat berminyak, disarankan pake bedak tabur dulu, baru habis itu bisa pakai bedak padat.

Gue men-set BB cream gue dengan bedak Rimmel Stay Matte Long Lasting Pressed Powder (review juga menyusul). Nggak perlu tebel kayak dempul, cukup hingga kulit nggak terlihat mengilap. Kan kita mau ngampus, bukan pentas.

8. Eyebrow


Ini dia salah satu barang baru dalam koleksi make up gue. Alis gue dari dulu nggak pernah beres, tapi gue nggak pernah punya niat untuk ngeberesinnya. Well, seenggaknya sampe beberapa bulan lalu ketika gue mulai tergugah untuk membenarkan rupa alis nggak jelas gue.

Pensil alis yang gue gunakan, karena gue adalah seorang pemula dalam hal melukis alis, adalah pensil alis murah meriah seharga 18 ribu rupiah yang bisa didapat nyaris di mana aja: Pixy Eyebrow Brown. Sengaja gue pilih warna coklat biar nggak keliatan kayak tante-tante jutek.

9. Eyeliner


Setelah selesai menggambar alis, perhatian kita pindahkan ke kelopak mata. Eyeliner kan emang lagi ngehits banget nih akhir-akhir ini, ya kita jangan mau ketinggalan dong. Tapi berhubung gue sering banget gagal melukis eyeliner dengan gaya cat eye, gue melingkari mata gue dengan eyeliner gaya tokoh-tokoh di anime Dangan Ronpa: mengikuti bentuk kelopak mata atas, dilanjut hingga waterline bawah, tapi berhenti di tengah mata.

Eyeliner yang saat ini gue gunakan adalah Maybelline Color Show Crayon Liner. Lagi-lagi murah meriah, cukup dua puluh ribuan. Sayang eyeliner ini smudge ketika udah diajak beraktivitas, ninggalin bekas nggak asik di bawah mata gitu. Tapi mau gimana lagi, daripada ngeluarin duit 5 euro lagi buat beli eyeliner doang?

10. Mascara


Ini benda eye make up wajib buat gue. Kalau ada yang berlebihan bilang kalau gue bakal mabok kalau nggak ada maskara di pouch make up gue... well, itu bener sih. Ada yang hilang rasanya kalau gue menghantam jalan tanpa membubuhkan maskara di bulu mata gue.

Maskara yang gue gunakan masih Kiko Luxurious Lashes Waterproof Mascara, tapi kalau nanti cuaca udah jadi lebih dingin dan lebih kering, gue akan lebih sering menggunakan maskara Yves Rocher Volume Vertige gue.

11. Lip balm


Salah satu peralatan wajib iklim subtropis. Gue paling nggak suka kalau bibir gue udah pecah-pecah kemudian ditimpa lipstik. Bibir rasanya jadi kayak cat tembok yang mengelupas. Pencegahan dan perawatannya tentu dengan lip balm yang tokcer daya lembabnya.

Selama di Indonesia sih gue pakai lip balm Nivea biasa pun cukup, tapi di sini gue pakai lip balm Neutrogena. Buat kalian yang bibirnya super kering, lip balmnya dipakai sebelum tidur juga, ya, jangan cuma pas dandan aja.

12. Lipstick


Dan yang terakhir, sang penutup, lipstik! Gunakan lipstik yang warnanya paling kamu suka dan emang cocok buat kamu. Kalau untuk kuliah sih gue sarankan pakai yang warna natural aja, nggak perlu terlalu ngejreng ingat sekali lagi kita mau kuliah, bukan mau pentas. Soal shimmer atau matte, gue rasa itu kembali ke pilihan masing-masing aja ya, karena tekstur lipstik itu masalah selera dan kebutuhan. Tambahan lip gloss opsional. Gue pribadi nggak suka pake lip gloss karena bikin bibir gue terkesan besar banget.

Lipstik yang gue gunakan masih campuran dari Kiko Unlimited Stylo No. 5 (Orange) dan No. 9 (Baby Rose).


Dan, tadaaa! Ini dia hasil akhirnya! Make up yang nggak terlalu berlebihan tapi cukup untuk memberi kesan segar dan siap menghadapi hari. Cukup biar nggak suntuk ketika dilihat teman-teman dan dosen, apalagi kalau mau presentasi di depan kelas.

Selamat menyambut tahun ajaran 2014/2015!

Salam dandan,


Minggu, 13 Juli 2014

Review: Wella New Decore Color Cream 6/4 (Dark Blonde Copper)

2 review produk dalam satu malam, ditulis sambil nonton final Piala Dunia 2014. Keren kan.

*apaan sih* *plak*

Jadi ceritanya, sejak gue pulang ke rumah, Nyokap minta gue ngecat rambut Beliau biar uban-uban Beliau nggak kelihatan lagi biasa emak-emak. Tahun lalu rambut Beliau pernah dicat juga pakai Henna, tapi katanya setelah beberapa lama si Henna ini luntur ke mana-mana dan jadinya malah ngotorin sarung bantal dan handuk :( Jadilah kali ini Nyokap meminta gue mengecat rambut beliau dengan cat rambut betulan.

Catnya biar gue yang beliin, yang jelas shade-nya Beliau minta yang warna kemerahan, tapi masih dalam range natural (bukan merah menyolok seperti yang gue idamkan, hahaha). Setelah setengah jam berembuk dengan adek gue di depan rak cat rambut di Hypermart, jadilah gue dan adek memutuskan untuk mengambil cat rambut yang kita rasa shade-nya paling pas ini.


Hasil akhirnya sih kata keterangan gambarnya bakal jadi merah gelap kayak rambut Emma Stone atau Julianne Moore. Well, lebih ke Julianne Moore sih. Kayak gini:

PRESIDENT ALMA COIN KYAA

Tapi berhubung warna asli rambut Nyokap, seperti warna rambut asli kita semua, adalah hitam, shade yang didapat pasti bakal jadi jauh lebih gelap dari ini.

Mari kita mulai kisah saat proses pengecatan rambut Nyokap dimulai. Di dalam boks ungu ini, kita dapet 3 jenis produk dan satu bungkus petunjuk pemakaian + sarung tangan plastik.


Tube ungu, yang ditandai dengan nomor 1, adalah color cream yang merupakan inti dari produk ini. Botol putih berangka 2 berisi developer yang berfungsi untuk memudarkan warna rambut asli. Tube emas yang dikasih nomor 3 adalah kondisioner yang mengunci warna cat ke dalam rambut.

Cara pemakaiannya nggak jauh beda dari cat-cat rambut klasik lainnya, yaitu mencampurkan color cream dengan developer di dalam botol developer. Asiknya, sekarang kita nggak usah nyari-nyari mangkuk khusus lagi untuk mencampur kedua zat ini karena botol developer-nya sudah dilengkapi dengan corong khusus yang memungkinkan kita untuk langsung mengaplikasikan cat rambutnya di atas kepala kita. Tapi kemarin gue tetap pake sisir kuas khusus yang buat ngecat rambut itu sih untuk meratakan catnya.

Ini penampakan campuran color cream sama developernya:


Di petunjuknya, katanya rambut yang sudah dipakaikan cat rambut ini cukup didiamkan 40 menit sebelum akhirnya dibilas dengan air (nggak usah pakai sampo) dan kondisioner yang sudah termasuk dalam paket produk ini. Kondisionernya wangi shea butter banget, btw.

Hasil yang gue harapkan adalah cat rambut ini mampu mengubah warna keperakan uban Nyokap jadi warna merah gelap yang dijanjikan, tapi hasil yang kami dapatkan justru beda. Uban Nyokap hanya terpengaruh sedikiiiit banget sementara rambut hitamnya justru berubah jadi kecoklatan semua. Rambut Nyokap jadi tiga warna: hitam, merah gelap, dan perak -____-

Untungnya, Nyokap seneng-seneng aja meski pengecatan kali ini bisa dibilang gagal total.

Beberapa hari setelah pengecatan ini, salah seorang tante gue baru bilang kalau merek cat rambut yang ampuh untuk nutupin uban adalah Garnier. Wella emang kurang ampuh. Well, better luck next time.

Tapi yang gue takjubnya, perubahan yang dihasilkan produk ini ke rambut hitam cukup mengesankan. Warna merah gelap atau tembaga yang dihasilkan sangat kelihatan, nggak perlu bantuan sinar lampu atau sinar matahari untuk ngelihat perbedaannya. Gue berani bilang kalau produk ini direkomendasikan buat kalian yang mau iseng ganti warna rambut, yang bosen dengan rambut hitam. Kalau kalian jago mungkin kalian bisa bikin rambut hitam dengan highlight tembaga kayak rambut Anne Hathaway di foto berikut:


Tapi tetep ya, nggak direkomendasiin buat Tante-tante sekalian yang pengen nutupin uban, hehehe.

Cheers!

Review: ELF Studio Powder Brush

Dari tahun lalu, sebulan setelah gue nulis review bedak Maybelline andalan gue, gue mulai mengaplikasikan bedak tersebut dengan kuas sesuai dengan banyak saran yang gue dapat dari berbagai artikel kecantikan di internet. Jadilah gue beli kuas abal-abal di mall yang nyantumin merek MAC tapi harganya cuma 30 ribu saja. Tapi kuas retractable ini cukup memadai seiring teksturnya yang cukup lembut dan bisa menyebarkan bedak dengan merata.

Tapi, minggu lalu, setelah setahun pengabdian *eaa*, kuas ini rusak, copot dari gagangnya. Artinya, yah, gue harus beli yang baru.

Berdasarkan pengalaman Tante Ghee dan endorse-nya di Instagram, gue akhirnya memesan sebuah kuas ELF (Eye, Lips, Face) Studio Powder Brush dari toko Celtic Butik.

ELF Cosmetics adalah merek kosmetik asal Amerika yang sudah cukup mendunia karena kualitasnya yang oke, tapi harganya sangat murah. Di Prancis, butiknya cuma ada di kota-kota besar kayak Paris dan Lyon. ELF pernah bikin gue kaget karena kuasnya harganya mulai dari 1 euro (sementara merek lain biasanya jual kuas di atas 10 euro), tapi ekspektasi gue kemudian dihempaskan lagi karena ongkos kirimnya justru jauh lebih mahal dari harga kuasnya (nyaris 8 euro ke Grenoble dan itu pun nggak langsung dianter ke rumah gue. Ogah kan).

Di Celtic Butik ini, gue menemukan kuas Studio Powder Brush yang di Prancis harganya sekitar 2 euro dengan harga Rp 70.000. Ditambah ongkir dari Malang ke Tangerang, total harga jadi Rp 84.000. Dihitung-hitung jadi lebih murah dibanding beli di Prancis (total 9 euro - dirupiahkan jadi Rp 144.000).

Kuas yang paling standar dari ELF ada tiga jenis; Essential, Studio, sama Mineral. Yang Essential sepertinya untuk pemakaian standar sehari-hari sementara yang Studio lebih diperuntukkan untuk pemakaian profesional. Kalau yang Mineral gue kurang paham juga bedanya apa soalnya kayaknya sama kayak yang dua di atas ._.v

Ini bedanya kuas Essential sama Studio:
Essential Brush Set
Studio Brush Set

Hari Sabtu lalu, salah satu dari sederet kuas keren ini akhirnya sampai di tangan gue. Begini penampakannya:


 Kemasannya simpel banget, cuma bungkus plastik tebal. Di dalamnya ada bungkus lain untuk melindungi bagian kepala kuas. Handelnya solid banget pas dipegang.

Kuku gue keren gak? Hahaha

Kuasnya sendiri lembut banget ketika disapu ke muka, nggak menusuk-nusuk kulit. Yang jelas, sebagai aplikator bedak compact, kuas ini sukses meratakan bedak tersebut ke seluruh wajah gue.


Satu hal yang gue gak suka dari kuas ini, dan kuas-kuas lainnya yang non-retractable, adalah penyimpanannya yang tanpa tutup yang menyebabkan dia lebih rentan kotor. Idealnya sih dicuci seminggu sekali dengan larutan khusus pencuci kuas, tapi karena gue bokek (alasan klasik!), gue pun cukup mencuci kuas dengan air hangat dan sabun cair.

Overall, gue puas banget sih dengan pembelian gue kali ini. Mungkin kalau butuh dan ada rejeki, gue akan beli kuas-kuas Studio Brush ELF lainnya. Who doesn't love cheap things with good quality? ;)

Love,

Jumat, 20 Juni 2014

K-On! Hirasawa Yui Cosplay

Jadi ceritanya udah lama adik gue, Amy, beli wig cosplay Hirasawa Yui-nya K-On. Tapi, dia nggak pernah pake wig ini untuk cosplay Yui-nya beneran dengan alasan belum beli kostumnya dan nggak bisa make upnya. Gue, sebagai kakak perempuan baik hati yang doyan dandan, akhirnya sore ini mendandani Amy dengan alat make up seadanya agar dia bisa jadi makin mirip Yui.

By the way, ini rupa si Yui untuk kalian yang belum tahu:


Dan ini dia hasil cosplay seadanya Yui oleh Amy:




Make up yang gue pake:

Face 
Maybelline Clear Smooth BB Cream
Oriflame Studio Artist Concealer
Maybelline Clear Smooth All-In-One Compact Powder

Eyes
Oriflame Power Red Palette Clutch (eye shadow warna lavender dan putih)
Miss Europe C'est Tout Moi! Black Eyeliner
PIXY Colours of Delight Eyebrow Pencil - Brown

Nose shading
Wardah Eye Shadow G

Lips
Kiko Ultra Glossy Stylo no. 806 (Tangerine)

Outfit
Dress from New Look

Berhubung jepit rambut yang ada di rumah adanya yang warna putih itu dan kita belum sempet beli jepit kuning khas Yui, jadilah kita pakai jepit yang itu aja. Untuk styling wig yang tadinya agak ribet dan berantakan, gue cukup pakai sisir bergigi rata untuk bikin wignya kelihatan lebih rapi dan membentuk poni depan Yui yang khas itu.

Dan oh, dia belum punya lensa kontak warna coklat juga.

Jadi, bagaimana menurut kalian cosplay seadanya ini?

Jumat, 13 Juni 2014

Back to Nature

Pakai bahan-bahan alami buat ngerawat muka itu di antara pengen kembali ke alam atau ngirit. Dalam kasus gue, yang terjadi adalah pilihan kedua.

Well nggak juga sih. Gue juga pengen kembali ke alam untuk memerangi jerawat di muka gue.

Seperti dalam postingan-postingan sebelumnya, kalian udah tau kalo budget make up dan skin care gue di sini amat sangat terbatas. Setelah berbulan-bulan sedikit frustasi melawan jerawat dengan modal apa adanya, akhir-akhir ini gue memutuskan untuk memakai produk langsung dari alam.

Kulit gue tipenya adalah kulit kombinasi yang cenderung berminyak. Dulu waktu SMP dan SMA muka gue nggak gampang berjerawat, paling cuma breakout jelang menstruasi. Tapi setelah usia menjelang 20 dan kulit gue harus adaptasi dengan iklim Prancis, jerawat gue jadi parah banget. Ditambah lagi warna kulit gue yang cenderung cerah bikin bekasnya kelihatan nyata. Ugh.

Benda pertama yang gue gunakan adalah madu. Awalnya gue pake madu langsung di muka untuk jadi masker dan lip balm. Untuk lip balmnya sukses, tapi untuk maskernya nggak terlalu. Mungkin gue juga yang salah karena gue nggak pakai madu mentah (lebih mahal, cyin).

Masih belum menyerah, berdasarkan tips dari temen gue akhirnya memakai madu dicampur dengan gula pasir dan sedikit susu untuk jadi scrub muka. Komposisinya satu gula blok (atau satu sendok teh gula pasir), satu sendok makan madu, dan satu sendok teh susu.

Ingredients!

Cara pakainya cukup dengan diaplikasikan di muka dengan jari lo sambil dipijat lembut, terutama di daerah yang rentan komedo kayak hidung, dahi, dan dagu. Setelah itu didiamkan selama kurang lebih 15 menit, bilas dengan air. Hasilnya jauh lebih oke daripada cuma madu doang, komedo langsung pergi dan kulit gue jadi lebih halus. Gue melakukan scrubbing ini cukup seminggu sekali karena kulit gue bukan tipe yang harus di-scrub terlalu sering. Kalau terlalu sering malah ujung-ujungnya jadi super sensitif dan iritasi.

Hasil yang udah tinggal dikit setelah dipakai dua kali

Kalau tekstur gula masih terasa terlalu kasar, bisa pakai kopi hitam juga. Resep scrub kopi hitam ini gue dapet dari link ini. Yang dibutuhkan cuma  empat sendok makan kopi hitam (jangan coffee mix, apalagi cappuccino instan :p) dan minyak zaitun alias olive oil.  Caranya? Tinggal campur dan pakai, sama kayak scrub gula di atas.

Kebetulan minggu ini gue cukup males untuk mecahin gula blok (karena takut mubazir juga saking kebanyakan), gue akhirnya mencampur kedua resep di atas menjadi scrub dengan bahan dasar kopi, dicampur madu dan susu. Jujur gue jadi lebih suka scrubbing dengan kopi karena partikelnya nggak sekasar gula, serta campuran madu dan susunya tetep bikin kulit lembut.


Oh ya, scrub ini nggak gue pake buat muka aja loh, tapi buat bibir juga. Lumayan ngirit, sekali bikin bisa buat dua hal. Bilang aja nggak mau rugi, dasar mahasiswa

Tapi yang bener-bener penyelamat sih lemon. Nggak tanggung-tanggung gue langsung nempelin irisan si lemon di kulit gue. Hasilnya? Nyesss. Jerawat yang masih aktif berasa disengat. Harus kuat mental emang kalau mau pakai lemon.


Tapi ngiris lemon tiap malem dan nyimpen sisanya lagi di kulkas rasanya bikin lemonnya cepet kering dan agak mubazir, gue akhirnya memutuskan untuk memeras lemon tersebut dan menyimpan sarinya di botol kosong biar bisa dituang ke kapas dan dipakai kayak toner (tadinya mau langsung dioles pake tangan, tapi ternyata susah banget. Niat ngirit malah jadi tumpah -____-).


Setelah memeras dua buah lemon dan masukin ke botol ini, gue baru browsing dan tahu kalau jus lemon cuma tahan tiga hari meski dikulkasin. Solusinya satu: dibekuin! Lebih ampuh untuk melawan jerawat karena es bersifat anti pembengkakan, membantu kerja jus lemonnya.


Lemon, katanya, selain ampuh menghilangkan jerawat, juga bisa mencerahkan bekas jerawat. Banyak produk pemutih yang pakai sari lemon lho, jadi kenapa nggak langsung coba yang asli aja? Buat yang kulitnya kering atau takut perih, sari lemonnya bisa dicampur dulu sama madu atau susu. Madunya kalau bisa madu mentah ya, jangan madu yang kayak Madurasa.

Kata temen-temen sih sejak pakai lemon minggu lalu hasilnya udah cukup kelihatan. Jerawat yang terlanjur ada membaik dan breakout yang muncul gak separah sebelumnya. Minggu ini ada sedikit breakout sih, tapi kering dengan cepet banget setelah tiap malam dengan rajinnya gue kasih sari lemon.

Komposisi perawatan sempurna itu kurang lengkap tanpa toner. Jadi gue mencari-cari toner dengan bahan alami yang gampang didapat. Berhubung gue pernah coba pake toner dari teh dan hasilnya kurang maksimal, gue akhirnya memutuskan untuk mencoba toner dari seduhan chamomile. Hasilnya melembutkan kulit dan bikin kulit siap sebelum ditempelin pelembab dan sunblock. Sebelum tidur gue juga pake seduhan chamomile ini untuk kompres mata. Caranya, basahin kapas dengan seduhan ini dan tempelkan ke mata, selesai!


Mau cantik nggak harus mahal, kok. Asal kita tahu, hal-hal yang ada di sekitar kita bisa kita manfaatin buat membantu kita tampil lebih cantik.

Cheers!


Sabtu, 07 Juni 2014

Me and My Plus-Sized Body

Gue, sepertinya, memang sudah dikutuk dengan selera makan yang sulit dibendung dan kemalasan luar biasa untuk bergerak. Dengan kata lain, gue memang sudah ditakdirkan untuk punya badan gemuk.

On the top of that, dari dulu nama panggilan 'Ndut' sudah melekat pada diri gue. Not that I like it though, at some points it made me hate my body. Really really hate it.

Seperti kita ketahui (banget), di dunia sekarang, standar cantik adalah kurus tinggi semampai. Yang terlalu kurus atau gemuk pasti langsung kena olok-olok. Dan kalimat 'hei-lo-gendutan' atau 'hei-lo-kurusan' udah bisa menggantikan kalimat 'apa kabar' untuk memulai sebuah percakapan. (Kalimat ini pernah dipakai seorang teman yang udah berbulan-bulan nggak menyapa gue dan sampe hari ini gue belum balas.Think ethically, for fuck's sake.)

Kembali ke badan gue lagi. Tinggi badan gue 163 cm, standar tinggi badan wanita Asia Tenggara. Berat badan gue di saat gue nulis postingan ini 74 kg. Berhubung berat badan gue sangat fluktuatif, gue pernah mengalami masa super gendut dan juga lagi kurus-kurusnya.

Waktu SD dan SMP gue bisa dibilang gak segemuk yang sekarang, mungkin sehubung aktivitas gue sangat padat dengan sekolah full day sampai sore, disambung dengan segenap les dan kursus. Ditambah lagi waktu SMP gue cukup aktif di ekskul Taekwondo. Tapi pas masuk SMA, mulailah badan gue membengkak.

Awal masuk SMA, tahun 2009, ini penampakan gue:


Ngeliat kadar kurus-gemuknya gue, kalau nggak keliatan perut, lengan, dan paha, itu gampang, liat aja pipi gue. Kalau makin bulat berarti gue makin menggemuk. Di foto ini kayaknya berat badan gue masih di kisaran 65-68 kg, belum terlalu membengkak.

Setahun di asrama bukannya bikin gue nambah kurus, tapi kebalikannya. Dan semua foto serta orang-orang pun mengonfirmasi hal tersebut. Ini foto gue ketika belum lama naik kelas 2, Ramadhan 2010:

Iya, gue sayang dan suka banget sama rok abu-abu sekolah gue.

Pipi gue keliatan jelas makin lebar. Padahal ini lagi stres ngurusin Baksos angkatan. Di sinilah kenapa gue menggemuk selama di asrama: bukannya mogok makan selama stres, gue malah makin banyak ngemil. Parah emang. Di sini berat badan gue udah mulai menginjak angka 70 -- yang sering kali gue sangkal dengan dalih 'timbangan klinik sekolahnya eror'.

Setahun kemudian, berat badan gue kayaknya stabil di angka 72-74, dibuktikan dengan foto di bawah ini:




Ini foto ketika Ramadhan 2011. Sebelum lebaran, sebelum gue makin menggemuk lagi akibat semua penganan lebaran yang mantap dan berlemak luar biasa. Setelah lebaran, gue memutuskan untuk mulai diet dengan motivasi tampil lebih tipis saat acara wisuda kelulusan SMA.

Diet yang gue lakukan cukup ekstrim, dimulai dari pijat totok telinga untuk menurunkan nafsu makan, minum seduhan daun jati cina yang rasanya amit-amit tiap habis makan, puasa Daud (ini sih karena mau UN juga) dengan buka puasa tanpa camilan, porsi makan berkurang drastis dan menolak makanan-makanan yang biasanya gue makan tanpa ragu demi mengurangi asupan kalori juga.

Nyiksa? Banget. Sebulan pertama semua temen sekelas gue bilang kalau gue keliatan lemes banget. Tapi semua terbayar ketika pada bulan April 2012 berat badan gue turun hingga ke angka 62-63 kg dan penampilan gue jadi seperti ini:


Bahagia sih, sebenernya, kalau lihat hasil akhirnya. Tapi prosesnya bikin gue merinding ketakutan kalau nginget-nginget lagi.

Sepulangnya dari asrama, karena di rumah porsi makan dan kebiasaan puasa gue mulai kendor. Yang masih gue jaga dengan ketat adalah si jamu jati cina. Agaknya gue sedikit melebar karena ketika wisuda di bukan Juni 2012, gue jadi seperti ini:


Setelah wisuda, gue menjalani kehidupan kos-kosan di Salemba selama les di Institut Français d'Indonésie Salemba dari bulan Juni sampai November. Cukup terkontrol sih, berhubung gue sering kali ngirit makan demi menyimpan uang jajan untuk beli hal yang lain. Jamu jati cina juga masih gue jaga meski puasanya sering gue langgar. Paling tiap weekend aja yang agak kendor berhubung gue pulang ke rumah

Foto gue November 2012:


Di periode ini gue jarang banget nimbang. Bisa dibilang gue jadi takut banget liat timbangan, kayak angka-angka itu meneror otak gue untuk diet lagi dan segala macam. Gue suka banget makan, diet adalah masalah besar buat gue.

Setelah bulan November, gue pulang ke rumah sampai bulan September, saat gue berangkat ke Prancis. Di periode inilah badan gue benar-benar membengkak. Gue jarang banget olah raga (kecuali nyapu, ngepel, cuci piring, dan ngejemur baju bisa dibilang olah raga) dan mau makan serta nyemil bener-bener gampang secara bokap gue rajin banget menyuplai camilan di rumah.

Ditambah lagi keluarga gue hampir tiap hari makan masakan Minang. Kadang beli, tapi juga sering bikin sendiri. Ya mau gimana lagi, nyokap gue orang Minang tulen. Inilah yang bikin gue nggak suka sayuran segar. Jangankan sayur segar, sayur bening aja gue nggak mau. Harus full berbumbu dan rasa asli sayurnya ketutup. Buah sih sering disajikan, tapi berhubung bokap gue doyan banget pepaya sementara gue benci pepaya, jadilah gue jarang banget ikut makan.

Ini penampakan gue di bulan Juni 2013, kurang lebih sama kayak sekarang.


Lebaran 2013 adalah puncak penggemukan luar biasa gue. Gue sekeluarga merayakan Idul Fitri di tempat kakak nyokap di Bengkulu, di mana di hampir tiap rumah menyajikan mpek-mpek. Belum lagi tante gue masak sop buntut dan segenap masakan Minang lainnya.

Surga buat lidah, neraka buat badan.

Alhasil beginilah penampilan gue selama di Bengkulu:



Entah pengaruh hijab juga atau emang begitu, pipi gue kelihatan benar-benar bulat di semua foto lebaran tahun ini. Dan kerasa banget sih kalau semua celana menyempit. Kayaknya di periode ini berat badan gue berkisar di angka 78-80 kg.

Waktu gue berangkat ke Prancis bulan September, kayaknya berat badan gue ada di kisaran 78 kg sehubungan sebelumnya gue berkali-kali bolak-balik Tangerang-Jakarta naik umum demi mengurus visa dan membeli berbagai keperluan untuk survival di Prancis. Gue juga melunasi semua utang puasa gue sebelum balik ke Prancis. Tapi yang terakhir ini sama aja bohong sih sehubungan gue buka puasa dengan segala makanan favorit gue kayak martabak manis, cakwe, otak-otak, dan tentu aja, sate padang.

Namanya juga mau setahun meninggalkan itu semua =w=

Ini dia foto-foto gue di hari pertama tiba di Paris:


Lepek karena udah malam banget dan gue baru aja melewati sembilan belas jam lebih perjalanan

Bulan pertama di Grenoble, bisa dibilang berat badan gue susut seiring gue homesick abis dan jadi nggak nafsu makan saking depresinya. Makan cuma sedikit, itupun pasta doang, bukan nasi. Malam cuma makan sedikit corn flakes sama buah. Pagi kadang nggak sarapan. Ditambah lagi gue harus jalan sekitar 15 menit dari tempat tinggal lama gue ke perhentian bus tiap harinya (berakhir ketika gue pindah tempat tinggal di awal November).

Foto bulan Oktober 2013:


Foto awal November 2013:

Laskar PPI Grenoble 2013/2014 beserta bapak Duta Besar Indonesia untuk Prancis dalam acara Foire Internationale de Grenoble 2013

Gemuk? Masih. Kayaknya di foto ini berat badan gue sekitar 76 kg (gue inget karena ketika gue nimbang di tempat Mbak Fida, gue dan Kak Ditya -- kebaya biru muda, rok batik pink, rambut diurai -- berjanji untuk menurunkan berat badan). Gak lama setelah foto ini diambil, gue, Kak Ditya, dan Mbak Yanti (kebaya biru, kerudung biru, di samping kiri Kak Ditya) beli obat diet di apotek yang berbentuk kapsul. Bahan dasarnya dari teh kalau nggak salah, diminum setelah makan.

Iya, Mbak Yanti kurus. Gue juga nggak paham kenapa dia ikutan beli obat diet.

Obat diet ini pernah membawa bencana untuk kita bertiga. Jadi ceritanya tiap Jumat malam PPI selalu mengadakan pengajian dan kadang sekalian makan malam bareng. Suatu Jumat, tergoda harga diskon, gue dan Kak Ditya memutuskan untuk memasak kerang hijau untuk makan malam bareng itu. Seperti biasa kita minum obat diet setelah makan. Malamnya sih nggak kenapa-napa, nah besok paginya baru ada kejadian.

Semua anggota PPI diundang untuk makan siang di rumah salah satu keluarga franco-indonesian di Prancis. Tiba-tiba pagi harinya Mbak Yanti undur diri untuk ikut dengan alasan diare. Awalnya kita bingung, kenapa ini anak bisa mendadak diare? Eh nggak berapa lama kemudian, gue ikutan diare. Puncaknya ketika udah di rumah keluarga ini gue sampe mondar-mandir ke toilet dan ujung-ujungnya muntah. Satu kata: memalukan. Untung si Mbak yang jadi tuan rumah baik hati dan memberikan gue obat diare yang manjur. Nah besoknya baru giliran Kak Ditya yang ikutan diare. Sisanya anak PPI lain yang ikut makan kerang itu nggak kenapa-napa, cuma kita bertiga aja yang diare. Akhirnya kita menyimpulkan kalau kombinasi kerang dan obat diet itulah yang bawa bencana.

Bulan Januari, hasil obat dietnya mulai kelihatan. Mungkin karena gue makan juga nggak pernah banyak banget juga. Berat badan gue turun ke angka 74.

Sebenernya gue nggak suka lihat foto-foto gue selama musim dingin karena gue selalu pakai baju lapis banyak dan itu membuat gue kelihatan sangat besar, tapi ya sudah lah, here you go:

Januari 2014:


Maret 2014:


Sampai hari ini, berat badan gue stabil di angka 74-75 kg. Tapi gue tetep merasa sehat dan pede, nggak peduli orang lain mau bilang apa. Well kadang-kadang sebel juga sih kalau dikatain 'gendut', tapi terus mau apa? Emangnya dia mau beliin gue obat diet atau bayarin sedot lemak?

Untuk gaya baju gue, gue hampir nggak pernah ngikutin guideline berpakaian untuk cewek-cewek plus size. I wear what I want - and what's clean inside my wardrobe iyalah masa baju kotor mau dipake.

Gue sejak di sini jadi suka banget pakai rok mini atau dress di atas skinny jeans/jeggings/legging-stocking. Mungkin gue bosen setelah sekian tahun pakai baju-baju berkesan maskulin terus - kaos oblong, kemeja cowok, sweter cowok, jaket cowok, celana kargo, et cetera -, dan gue emang dari dulu pengen pakai baju-baju unyu yang mengijinkan gue bilang 'kawaii' dengan bebas.

Gue tetep suka pakai kaos, tapi di bawahnya gue pakai rok mini. Kalau mampir ke butik, gue sudah pasti nyamperin rak dress atau rok.

Banyak yang bilang badan gue nggak cocok untuk pakai rok yang berlipat atau berkerut di pinggang, I say; fuck that! I wear what I want. Gue juga mengurangi koleksi baju warna kelam gue dan menambah warna-warna cerah.

Untuk gaya hijab, untuk sehari-hari gue masih mengandalkan kerudung segi empat bahan paris dengan berbagai warna pilihannya dengan alasan praktis dan simpel. Gue makin jarang styling hijab atau pashmina untuk pemakaian sehari-hari karena biasanya gue udah repot sendiri karena harus masak makan siang sebelum berangkat ngampus. Pashmina cuma dipakai sesekali kalau jalan atau ada acara.

Sekarang, gue berdamai dengan tubuh plus size gue dan selera makan gue. Gue makin nyaman dengan tubuh gue dan menerima tubuh gue apa adanya. Gue belajar untuk nggak mengutuk bagian-bagian tubuh gue yang nggak sesuai dengan standar kecantikan jaman sekarang. Gue belajar untuk menghargai apa yang gue punya, apa yang diberi pada gue. Dan gue berusaha untuk merawatnya sekuat tenaga karena badan ini yang satu-satunya gue punya.

Tapi tetep, kalau lo menyapa gue dengan menyebutkan gemuknya gue pertama kali setelah sekian bulan nggak nyapa, jangan heran kalau reaksi gue berubah jadi asem.

Really dude, it is NOT a proper way to greet someone.

Love your body, Beauty Warriors, no matter what size, what shape it has! Here's some self confidence boost for you ヾ(*´∀`*)ノ

((Gue akuin gue emang sangat kurang gaul sih di dunia per-beauty blogging-an, tapi gue jarang banget liat beauty blogger yang bodinya plus size. Kalau ada yang tahu tolong kasih tahu gue ya :D))

Cheers!