Jumat, 13 Juni 2014

Back to Nature

Pakai bahan-bahan alami buat ngerawat muka itu di antara pengen kembali ke alam atau ngirit. Dalam kasus gue, yang terjadi adalah pilihan kedua.

Well nggak juga sih. Gue juga pengen kembali ke alam untuk memerangi jerawat di muka gue.

Seperti dalam postingan-postingan sebelumnya, kalian udah tau kalo budget make up dan skin care gue di sini amat sangat terbatas. Setelah berbulan-bulan sedikit frustasi melawan jerawat dengan modal apa adanya, akhir-akhir ini gue memutuskan untuk memakai produk langsung dari alam.

Kulit gue tipenya adalah kulit kombinasi yang cenderung berminyak. Dulu waktu SMP dan SMA muka gue nggak gampang berjerawat, paling cuma breakout jelang menstruasi. Tapi setelah usia menjelang 20 dan kulit gue harus adaptasi dengan iklim Prancis, jerawat gue jadi parah banget. Ditambah lagi warna kulit gue yang cenderung cerah bikin bekasnya kelihatan nyata. Ugh.

Benda pertama yang gue gunakan adalah madu. Awalnya gue pake madu langsung di muka untuk jadi masker dan lip balm. Untuk lip balmnya sukses, tapi untuk maskernya nggak terlalu. Mungkin gue juga yang salah karena gue nggak pakai madu mentah (lebih mahal, cyin).

Masih belum menyerah, berdasarkan tips dari temen gue akhirnya memakai madu dicampur dengan gula pasir dan sedikit susu untuk jadi scrub muka. Komposisinya satu gula blok (atau satu sendok teh gula pasir), satu sendok makan madu, dan satu sendok teh susu.

Ingredients!

Cara pakainya cukup dengan diaplikasikan di muka dengan jari lo sambil dipijat lembut, terutama di daerah yang rentan komedo kayak hidung, dahi, dan dagu. Setelah itu didiamkan selama kurang lebih 15 menit, bilas dengan air. Hasilnya jauh lebih oke daripada cuma madu doang, komedo langsung pergi dan kulit gue jadi lebih halus. Gue melakukan scrubbing ini cukup seminggu sekali karena kulit gue bukan tipe yang harus di-scrub terlalu sering. Kalau terlalu sering malah ujung-ujungnya jadi super sensitif dan iritasi.

Hasil yang udah tinggal dikit setelah dipakai dua kali

Kalau tekstur gula masih terasa terlalu kasar, bisa pakai kopi hitam juga. Resep scrub kopi hitam ini gue dapet dari link ini. Yang dibutuhkan cuma  empat sendok makan kopi hitam (jangan coffee mix, apalagi cappuccino instan :p) dan minyak zaitun alias olive oil.  Caranya? Tinggal campur dan pakai, sama kayak scrub gula di atas.

Kebetulan minggu ini gue cukup males untuk mecahin gula blok (karena takut mubazir juga saking kebanyakan), gue akhirnya mencampur kedua resep di atas menjadi scrub dengan bahan dasar kopi, dicampur madu dan susu. Jujur gue jadi lebih suka scrubbing dengan kopi karena partikelnya nggak sekasar gula, serta campuran madu dan susunya tetep bikin kulit lembut.


Oh ya, scrub ini nggak gue pake buat muka aja loh, tapi buat bibir juga. Lumayan ngirit, sekali bikin bisa buat dua hal. Bilang aja nggak mau rugi, dasar mahasiswa

Tapi yang bener-bener penyelamat sih lemon. Nggak tanggung-tanggung gue langsung nempelin irisan si lemon di kulit gue. Hasilnya? Nyesss. Jerawat yang masih aktif berasa disengat. Harus kuat mental emang kalau mau pakai lemon.


Tapi ngiris lemon tiap malem dan nyimpen sisanya lagi di kulkas rasanya bikin lemonnya cepet kering dan agak mubazir, gue akhirnya memutuskan untuk memeras lemon tersebut dan menyimpan sarinya di botol kosong biar bisa dituang ke kapas dan dipakai kayak toner (tadinya mau langsung dioles pake tangan, tapi ternyata susah banget. Niat ngirit malah jadi tumpah -____-).


Setelah memeras dua buah lemon dan masukin ke botol ini, gue baru browsing dan tahu kalau jus lemon cuma tahan tiga hari meski dikulkasin. Solusinya satu: dibekuin! Lebih ampuh untuk melawan jerawat karena es bersifat anti pembengkakan, membantu kerja jus lemonnya.


Lemon, katanya, selain ampuh menghilangkan jerawat, juga bisa mencerahkan bekas jerawat. Banyak produk pemutih yang pakai sari lemon lho, jadi kenapa nggak langsung coba yang asli aja? Buat yang kulitnya kering atau takut perih, sari lemonnya bisa dicampur dulu sama madu atau susu. Madunya kalau bisa madu mentah ya, jangan madu yang kayak Madurasa.

Kata temen-temen sih sejak pakai lemon minggu lalu hasilnya udah cukup kelihatan. Jerawat yang terlanjur ada membaik dan breakout yang muncul gak separah sebelumnya. Minggu ini ada sedikit breakout sih, tapi kering dengan cepet banget setelah tiap malam dengan rajinnya gue kasih sari lemon.

Komposisi perawatan sempurna itu kurang lengkap tanpa toner. Jadi gue mencari-cari toner dengan bahan alami yang gampang didapat. Berhubung gue pernah coba pake toner dari teh dan hasilnya kurang maksimal, gue akhirnya memutuskan untuk mencoba toner dari seduhan chamomile. Hasilnya melembutkan kulit dan bikin kulit siap sebelum ditempelin pelembab dan sunblock. Sebelum tidur gue juga pake seduhan chamomile ini untuk kompres mata. Caranya, basahin kapas dengan seduhan ini dan tempelkan ke mata, selesai!


Mau cantik nggak harus mahal, kok. Asal kita tahu, hal-hal yang ada di sekitar kita bisa kita manfaatin buat membantu kita tampil lebih cantik.

Cheers!


Sabtu, 07 Juni 2014

Me and My Plus-Sized Body

Gue, sepertinya, memang sudah dikutuk dengan selera makan yang sulit dibendung dan kemalasan luar biasa untuk bergerak. Dengan kata lain, gue memang sudah ditakdirkan untuk punya badan gemuk.

On the top of that, dari dulu nama panggilan 'Ndut' sudah melekat pada diri gue. Not that I like it though, at some points it made me hate my body. Really really hate it.

Seperti kita ketahui (banget), di dunia sekarang, standar cantik adalah kurus tinggi semampai. Yang terlalu kurus atau gemuk pasti langsung kena olok-olok. Dan kalimat 'hei-lo-gendutan' atau 'hei-lo-kurusan' udah bisa menggantikan kalimat 'apa kabar' untuk memulai sebuah percakapan. (Kalimat ini pernah dipakai seorang teman yang udah berbulan-bulan nggak menyapa gue dan sampe hari ini gue belum balas.Think ethically, for fuck's sake.)

Kembali ke badan gue lagi. Tinggi badan gue 163 cm, standar tinggi badan wanita Asia Tenggara. Berat badan gue di saat gue nulis postingan ini 74 kg. Berhubung berat badan gue sangat fluktuatif, gue pernah mengalami masa super gendut dan juga lagi kurus-kurusnya.

Waktu SD dan SMP gue bisa dibilang gak segemuk yang sekarang, mungkin sehubung aktivitas gue sangat padat dengan sekolah full day sampai sore, disambung dengan segenap les dan kursus. Ditambah lagi waktu SMP gue cukup aktif di ekskul Taekwondo. Tapi pas masuk SMA, mulailah badan gue membengkak.

Awal masuk SMA, tahun 2009, ini penampakan gue:


Ngeliat kadar kurus-gemuknya gue, kalau nggak keliatan perut, lengan, dan paha, itu gampang, liat aja pipi gue. Kalau makin bulat berarti gue makin menggemuk. Di foto ini kayaknya berat badan gue masih di kisaran 65-68 kg, belum terlalu membengkak.

Setahun di asrama bukannya bikin gue nambah kurus, tapi kebalikannya. Dan semua foto serta orang-orang pun mengonfirmasi hal tersebut. Ini foto gue ketika belum lama naik kelas 2, Ramadhan 2010:

Iya, gue sayang dan suka banget sama rok abu-abu sekolah gue.

Pipi gue keliatan jelas makin lebar. Padahal ini lagi stres ngurusin Baksos angkatan. Di sinilah kenapa gue menggemuk selama di asrama: bukannya mogok makan selama stres, gue malah makin banyak ngemil. Parah emang. Di sini berat badan gue udah mulai menginjak angka 70 -- yang sering kali gue sangkal dengan dalih 'timbangan klinik sekolahnya eror'.

Setahun kemudian, berat badan gue kayaknya stabil di angka 72-74, dibuktikan dengan foto di bawah ini:




Ini foto ketika Ramadhan 2011. Sebelum lebaran, sebelum gue makin menggemuk lagi akibat semua penganan lebaran yang mantap dan berlemak luar biasa. Setelah lebaran, gue memutuskan untuk mulai diet dengan motivasi tampil lebih tipis saat acara wisuda kelulusan SMA.

Diet yang gue lakukan cukup ekstrim, dimulai dari pijat totok telinga untuk menurunkan nafsu makan, minum seduhan daun jati cina yang rasanya amit-amit tiap habis makan, puasa Daud (ini sih karena mau UN juga) dengan buka puasa tanpa camilan, porsi makan berkurang drastis dan menolak makanan-makanan yang biasanya gue makan tanpa ragu demi mengurangi asupan kalori juga.

Nyiksa? Banget. Sebulan pertama semua temen sekelas gue bilang kalau gue keliatan lemes banget. Tapi semua terbayar ketika pada bulan April 2012 berat badan gue turun hingga ke angka 62-63 kg dan penampilan gue jadi seperti ini:


Bahagia sih, sebenernya, kalau lihat hasil akhirnya. Tapi prosesnya bikin gue merinding ketakutan kalau nginget-nginget lagi.

Sepulangnya dari asrama, karena di rumah porsi makan dan kebiasaan puasa gue mulai kendor. Yang masih gue jaga dengan ketat adalah si jamu jati cina. Agaknya gue sedikit melebar karena ketika wisuda di bukan Juni 2012, gue jadi seperti ini:


Setelah wisuda, gue menjalani kehidupan kos-kosan di Salemba selama les di Institut Français d'Indonésie Salemba dari bulan Juni sampai November. Cukup terkontrol sih, berhubung gue sering kali ngirit makan demi menyimpan uang jajan untuk beli hal yang lain. Jamu jati cina juga masih gue jaga meski puasanya sering gue langgar. Paling tiap weekend aja yang agak kendor berhubung gue pulang ke rumah

Foto gue November 2012:


Di periode ini gue jarang banget nimbang. Bisa dibilang gue jadi takut banget liat timbangan, kayak angka-angka itu meneror otak gue untuk diet lagi dan segala macam. Gue suka banget makan, diet adalah masalah besar buat gue.

Setelah bulan November, gue pulang ke rumah sampai bulan September, saat gue berangkat ke Prancis. Di periode inilah badan gue benar-benar membengkak. Gue jarang banget olah raga (kecuali nyapu, ngepel, cuci piring, dan ngejemur baju bisa dibilang olah raga) dan mau makan serta nyemil bener-bener gampang secara bokap gue rajin banget menyuplai camilan di rumah.

Ditambah lagi keluarga gue hampir tiap hari makan masakan Minang. Kadang beli, tapi juga sering bikin sendiri. Ya mau gimana lagi, nyokap gue orang Minang tulen. Inilah yang bikin gue nggak suka sayuran segar. Jangankan sayur segar, sayur bening aja gue nggak mau. Harus full berbumbu dan rasa asli sayurnya ketutup. Buah sih sering disajikan, tapi berhubung bokap gue doyan banget pepaya sementara gue benci pepaya, jadilah gue jarang banget ikut makan.

Ini penampakan gue di bulan Juni 2013, kurang lebih sama kayak sekarang.


Lebaran 2013 adalah puncak penggemukan luar biasa gue. Gue sekeluarga merayakan Idul Fitri di tempat kakak nyokap di Bengkulu, di mana di hampir tiap rumah menyajikan mpek-mpek. Belum lagi tante gue masak sop buntut dan segenap masakan Minang lainnya.

Surga buat lidah, neraka buat badan.

Alhasil beginilah penampilan gue selama di Bengkulu:



Entah pengaruh hijab juga atau emang begitu, pipi gue kelihatan benar-benar bulat di semua foto lebaran tahun ini. Dan kerasa banget sih kalau semua celana menyempit. Kayaknya di periode ini berat badan gue berkisar di angka 78-80 kg.

Waktu gue berangkat ke Prancis bulan September, kayaknya berat badan gue ada di kisaran 78 kg sehubungan sebelumnya gue berkali-kali bolak-balik Tangerang-Jakarta naik umum demi mengurus visa dan membeli berbagai keperluan untuk survival di Prancis. Gue juga melunasi semua utang puasa gue sebelum balik ke Prancis. Tapi yang terakhir ini sama aja bohong sih sehubungan gue buka puasa dengan segala makanan favorit gue kayak martabak manis, cakwe, otak-otak, dan tentu aja, sate padang.

Namanya juga mau setahun meninggalkan itu semua =w=

Ini dia foto-foto gue di hari pertama tiba di Paris:


Lepek karena udah malam banget dan gue baru aja melewati sembilan belas jam lebih perjalanan

Bulan pertama di Grenoble, bisa dibilang berat badan gue susut seiring gue homesick abis dan jadi nggak nafsu makan saking depresinya. Makan cuma sedikit, itupun pasta doang, bukan nasi. Malam cuma makan sedikit corn flakes sama buah. Pagi kadang nggak sarapan. Ditambah lagi gue harus jalan sekitar 15 menit dari tempat tinggal lama gue ke perhentian bus tiap harinya (berakhir ketika gue pindah tempat tinggal di awal November).

Foto bulan Oktober 2013:


Foto awal November 2013:

Laskar PPI Grenoble 2013/2014 beserta bapak Duta Besar Indonesia untuk Prancis dalam acara Foire Internationale de Grenoble 2013

Gemuk? Masih. Kayaknya di foto ini berat badan gue sekitar 76 kg (gue inget karena ketika gue nimbang di tempat Mbak Fida, gue dan Kak Ditya -- kebaya biru muda, rok batik pink, rambut diurai -- berjanji untuk menurunkan berat badan). Gak lama setelah foto ini diambil, gue, Kak Ditya, dan Mbak Yanti (kebaya biru, kerudung biru, di samping kiri Kak Ditya) beli obat diet di apotek yang berbentuk kapsul. Bahan dasarnya dari teh kalau nggak salah, diminum setelah makan.

Iya, Mbak Yanti kurus. Gue juga nggak paham kenapa dia ikutan beli obat diet.

Obat diet ini pernah membawa bencana untuk kita bertiga. Jadi ceritanya tiap Jumat malam PPI selalu mengadakan pengajian dan kadang sekalian makan malam bareng. Suatu Jumat, tergoda harga diskon, gue dan Kak Ditya memutuskan untuk memasak kerang hijau untuk makan malam bareng itu. Seperti biasa kita minum obat diet setelah makan. Malamnya sih nggak kenapa-napa, nah besok paginya baru ada kejadian.

Semua anggota PPI diundang untuk makan siang di rumah salah satu keluarga franco-indonesian di Prancis. Tiba-tiba pagi harinya Mbak Yanti undur diri untuk ikut dengan alasan diare. Awalnya kita bingung, kenapa ini anak bisa mendadak diare? Eh nggak berapa lama kemudian, gue ikutan diare. Puncaknya ketika udah di rumah keluarga ini gue sampe mondar-mandir ke toilet dan ujung-ujungnya muntah. Satu kata: memalukan. Untung si Mbak yang jadi tuan rumah baik hati dan memberikan gue obat diare yang manjur. Nah besoknya baru giliran Kak Ditya yang ikutan diare. Sisanya anak PPI lain yang ikut makan kerang itu nggak kenapa-napa, cuma kita bertiga aja yang diare. Akhirnya kita menyimpulkan kalau kombinasi kerang dan obat diet itulah yang bawa bencana.

Bulan Januari, hasil obat dietnya mulai kelihatan. Mungkin karena gue makan juga nggak pernah banyak banget juga. Berat badan gue turun ke angka 74.

Sebenernya gue nggak suka lihat foto-foto gue selama musim dingin karena gue selalu pakai baju lapis banyak dan itu membuat gue kelihatan sangat besar, tapi ya sudah lah, here you go:

Januari 2014:


Maret 2014:


Sampai hari ini, berat badan gue stabil di angka 74-75 kg. Tapi gue tetep merasa sehat dan pede, nggak peduli orang lain mau bilang apa. Well kadang-kadang sebel juga sih kalau dikatain 'gendut', tapi terus mau apa? Emangnya dia mau beliin gue obat diet atau bayarin sedot lemak?

Untuk gaya baju gue, gue hampir nggak pernah ngikutin guideline berpakaian untuk cewek-cewek plus size. I wear what I want - and what's clean inside my wardrobe iyalah masa baju kotor mau dipake.

Gue sejak di sini jadi suka banget pakai rok mini atau dress di atas skinny jeans/jeggings/legging-stocking. Mungkin gue bosen setelah sekian tahun pakai baju-baju berkesan maskulin terus - kaos oblong, kemeja cowok, sweter cowok, jaket cowok, celana kargo, et cetera -, dan gue emang dari dulu pengen pakai baju-baju unyu yang mengijinkan gue bilang 'kawaii' dengan bebas.

Gue tetep suka pakai kaos, tapi di bawahnya gue pakai rok mini. Kalau mampir ke butik, gue sudah pasti nyamperin rak dress atau rok.

Banyak yang bilang badan gue nggak cocok untuk pakai rok yang berlipat atau berkerut di pinggang, I say; fuck that! I wear what I want. Gue juga mengurangi koleksi baju warna kelam gue dan menambah warna-warna cerah.

Untuk gaya hijab, untuk sehari-hari gue masih mengandalkan kerudung segi empat bahan paris dengan berbagai warna pilihannya dengan alasan praktis dan simpel. Gue makin jarang styling hijab atau pashmina untuk pemakaian sehari-hari karena biasanya gue udah repot sendiri karena harus masak makan siang sebelum berangkat ngampus. Pashmina cuma dipakai sesekali kalau jalan atau ada acara.

Sekarang, gue berdamai dengan tubuh plus size gue dan selera makan gue. Gue makin nyaman dengan tubuh gue dan menerima tubuh gue apa adanya. Gue belajar untuk nggak mengutuk bagian-bagian tubuh gue yang nggak sesuai dengan standar kecantikan jaman sekarang. Gue belajar untuk menghargai apa yang gue punya, apa yang diberi pada gue. Dan gue berusaha untuk merawatnya sekuat tenaga karena badan ini yang satu-satunya gue punya.

Tapi tetep, kalau lo menyapa gue dengan menyebutkan gemuknya gue pertama kali setelah sekian bulan nggak nyapa, jangan heran kalau reaksi gue berubah jadi asem.

Really dude, it is NOT a proper way to greet someone.

Love your body, Beauty Warriors, no matter what size, what shape it has! Here's some self confidence boost for you ヾ(*´∀`*)ノ

((Gue akuin gue emang sangat kurang gaul sih di dunia per-beauty blogging-an, tapi gue jarang banget liat beauty blogger yang bodinya plus size. Kalau ada yang tahu tolong kasih tahu gue ya :D))

Cheers!


Jumat, 06 Juni 2014

Review: The Face Shop's Lovely ME:EX Nail Polish Remover

Beauty Warriors!

Akhir periode fountaine rouge alias minggu berdarah alias dapet adalah masa yang menyenangkan sekaligus menyebalkan buat gue. Menyenangkan karena penderitaan di rahim gue berakhir dan gue bisa ibadah lagi. Menyebalkan karena ini tandanya gue harus menghapus segala bentuk cat kuku yang nemplok di jari-jari gue.

Sebelum gue beli produk yang namanya ada di judul, gue pake nail remover standar yang bisa ditemukan dengan mudah di minimarket terdekat, yang udah dipake Nyokap dari jaman gue masih umur 4 tahun. Mereknya Rosary, harganya 10 ribuan, rupanya kayak gini:


Daya hapusnya nggak gitu oke sih, kapas sebagai aplikatornya harus dibasahin berulang-ulang karena dia menguap dengan kecepatan yang luar biasa. Jatohnya jadi boros, dipake 3 orang (gue, Nyokap, dan Adek) sekali sebulan cuma bisa buat dua bulanan.

Ketika gue mengunjungi gerai The Face Shop sekitar bulan Mei tahun lalu untuk beli kuteks hitam gue (yang nggak abis-abis itu), gue pun memutuskan untuk beli removernya sekalian. Mereknya bisa dilihat di atas, Lovely ME:EX Nail Polish Remover. Penampakannya kayak gini:


Setelah satu tahun dipake (meski cuma sebulan sekali, tapi nggak cuma gue doang lho ya. Temen-temen kadang suka minta juga soalnya) masih nyisa segini. Packagingnya simpel, isi 100 ml, tutupnya tipe yang harus diteken dulu sebelum diputer, jadi nggak gampang tumpah.



Pemakaiannya nggak perlu ditekan-tekan dan digosok secara brutal, cukup diusap-usap sebentar. Jangankan kuteks yang warna lembut, punya gue yang warna hitam kelam aja bisa bersih banget jadinya. Meski bahan dasarnya dari aseton, remover ini nggak bikin kuku dan kulit di sekitarnya kering. Harganya juga nggak seberapa mahal, kisaran 10-30 ribu (lupa persisnya, maklum ya udah setahun, hehe).


Ini dia kapas yang gue pake untuk menghapus kuteks Kiko yang kemarin gue pake. Hasilnya: bersih! Ampuh banget untuk semua kuteks yang gue punya (The Face Shop, Oriflame, dan Kiko).


Ditambah lagi, remover ini lengkap dengan wangi stroberi yang yummy banget. Worth it banget lah. Yang gue punya ini varian 01-Pink, kalau gue nggak salah ada varian satu lagi yang warna ungu.

Repurchase? Iya aja sih, kalau remover ini abis pas kebetulan gue lagi di Indo.

Sekian review produk hari ini, stay awesome!


Selasa, 03 Juni 2014

WORKOUT!

Beauty warriors!

Udah dua minggu ini gue nggak ada kerjaan selain ngegelepar di kamar dengan laptop dan makanan, dan seiring gue bosan dan badan gue mulai nggak enak gue mulai nyoba olahraga kecil-kecilan.

Jarang kan denger gue nyebut kata 'olahraga'.

Awalnya dimulai dari naik gunung di awal ngegabut kemarin, gue jadi lumayan tertarik untuk keluar kamar, berhubung cuaca juga udah nggak sedingin bulan-bulan sebelumnya juga. Gue pengen gerak, nggak tahu kenapa. Bukan karena pengen diet juga, sih. Nggak tau kenapa pengen menghirup udara segar di luar kamar aja.

Seminggu yang lalu pula my dearest homie Uli ngasih gue panduan untuk yoga. Setelah dua kali gue coba gue ngerasa kurang sreg. Kebetulan semalem gue lagi bosen banget dan memutuskan untuk obrak-abrik channelnya CutiePie Marzia (who is, by the way, one of my favorite female YouTuber since she is so adorable, cute, and beautiful, and her videos are awesome. En plus, she is PewDiePie's girlfriend) dan menemukan video ini:


Yep. Dari judulnya aja udah pas banget buat gue yang mager setengah mampus. Gue, semalam, pukul 12 malam kurang sedikit, memutuskan untuk mengikuti rangkaian olahraga yang dipake Marzia di sini.

Hari ini untuk pertama kalinya dalam sekian tahun gue berhasil sit up 30 kali tanpa bantuan orang lain =)) yea this might be funny for you but if you have a belly as huge as I have, sit up is such a grande problem.

Rencananya sih gue mau ngikutin rangkaian workout ini selama gue di sini, untuk di Indonesia nanti gue masih ragu (karena lo tau sendiri malesnya lari pagi di Indonesia). Mungkin lari pagi bakal gue ganti sama skipping di rumah, kita liat aja ntar.

So that's it for today, happy exercising dear Beauty Warriors!


Sabtu, 31 Mei 2014

Make Up of the Day!

Jarang-jarang gue ngepost selfie gue selain di Instagram. Mumpung selfienya oke dan gue mau sedikit pamer ngejelasin produk apa aja yang gue pake, gue post selfie gue di sini ya.




Products used:

Base
Mixa Crème Visage pour Peau Sensible
Garnier Ambre Solaire Sensitive Expert SPF 50+
Maybelline Clear Smooth BB Cream
Maybelline Clear Smooth All In One Compact Powder

Eye
Wardah Eye Shadow G
L'Oreal Super Liner Perfect Slim Intense Black
Yves Rocher Volume Vertige Mascara

Lips
Neutrogena Lip Balm
Kiko Unlimited Stylo Lipstick no. 5 (Orange) and 9 (Baby Rose)

BB Cream cuma gue pake di lingkaran mata demi menyamarkan si mata panda yang lagi parah-parahnya. So you can see my acne scars on my face, hahaha. Tumbenan make up rada berat kayak gini soalnya lagi... pengen aja.

See you on the next posts, people.


Kiko Cosmetics Review

Kiko Cosmetics adalah brand make up Eropa yang merupakan anugerah untuk para mahasiswi doyan dandan yang kantongnya nggak seberapa tebel. Untuk yang lebih tebel mungkin biasa main ke Sephora, Réserve Naturelle, atau Yves Rocher, tapi untuk kami, Kiko adalah sejenis penyelamat.


Kiko adalah merek make up asal Itali, lebih tepatnya dari Milan. Gerai Kiko di Grenoble baru dibuka belum lama setelah gue sampe di Grenoble. Ketika gue lagi ngobrol dengan anak-anak Indo lain tentang lipstik yang oke tapi murah, Mbak Maureen merekomendasikan lipstik Kiko yang range harganya dimulai dari hanya 4 euro. Kaget? Jelas, karena gue cuma tau lipstik-lipstik di Sephora yang harganya 10 euro ke atas. Jadilah lipstik adalah produk pertama yang gue beli dari brand make up ini.

Jenis lipstik yang gue beli adalah Kiko Ultra Glossy Stylo yang varian warnanya bisa dilihat di bawah ini:


Gue beli yang nomor 806 (Tangerine), yang warna oranye muda banget yang bikin bibir gue berkesan muda dan natural. Kekurangan lipstik ini buat gue adalah warnanya nggak nempel seberapa lama dan nggak seratus persen meng-cover bibir gue yang cenderung gelap. Tapi untuk pemakaian sehari-hari, lipstik ini oke banget. Sayang gue nggak bisa ngasih foto lipstik yang gue punya karena lipstik gue penyet dan udah nggak berbentuk (karena kebodohan gue nutup tanpa sadar kalo lipstiknya belom diputer sampe habis masuk), ditambah lagi logo Kikonya udah pudar.

Produk kedua yang gue beli dari Kiko, sekian bulan setelah si lipstik adalah kuteks, Kiko Nail Lacquer yang menyediakan lebih dari 40 shade warna.

Gue beli warna pink super muda (karena kuteks hitam The Face Shop gue kayaknya nggak habis-habis dan gue bosen sama kuteks ini) yang sangat unyu dan yummy dan sekilas nggak gitu kelihatan kalau dipakai. Habis itu gue juga beli yang warna merah darah. Sebenernya yang merah ini mau dikasih ke Nyokap, tapi karena nggak tahan akhirnya gue 'cicip' dulu dikit. Ini penampakan produk dan hasilnya:



Kuteks ini teksturnya cair banget, gampang beleber ke mana-mana pas diaplikasikan. Tapi hasil akhirnya sangat memuaskan karena teksturnya kelihatan rata, bikin berantakannya nggak terlalu kelihatan. Apalagi dia tahan lama, udah gue pake nyuci baju dan nyuci piring sekalipun nggak gampang rontok kayak kuteks-kuteks lainnya.

Lanjut, karena maskara waterproof Maybelline Cat Eyes yang gue bawa dari Indo udah kadaluarsa, akhirnya gue pakai maskara Yves Rocher Volume Vertige yang gue dapatkan secara GRATIS dari Yves Rocher alih-alih bayar 18 euro. ALHAMDULILLAH =))



Sayangnya maskara ini nggak anti air, ketika udara mulai panas kayak sekarang, kalau udah pakai seharian suka luntur sedikit di kelopak mata bawah gue. Gue akhirnya memutuskan untuk beli maskara anti air. Kebetulan banget, bulan Maret kemarin Kiko ngadain sale maskara, dari yang harganya 7,9 euro dipangkas jadi separo, cuma 3,9 euro. 

Pilihan gue akhirnya jatuh pada Kiko Luxurious Lashes Waterproof Mascara. 



Berhubung gue selalu cari maskara yang sikatnya nggak terlalu rapet, gue akhirnya memilih maskara ini. Hasil akhirnya pun memuaskan, nggak menggumpal dan kelihatan super natural.

Item teranyar yang gue beli adalah kedua lipstik dari seri Unlimited Stylo. Pencarian gue akan lipstik warna peach sempurna yang tahan lama dan full coverage belum berakhir dan ketika gue lihat seri baru lipstik ini, gue langsung jatuh hati.


Yang pertama gue beli adalah yang sebelah kiri, yang warna oranye nyala. Awal pertama lihat warna lipstik ini gue langsung jatuh hati karena gue emang lagi nyari lipstik warna oranye.

No. 5 (Orange)

Lipstik warna oranye ngejreng ini gue pilih demi persaingan melawan tren lipstik merah menyala yang dikobarkan para Parisian di kalangan anak PPI.

Well, nggak juga sih. Ini teu bercanda.

Awalnya gue pede-pede aja pake warna oranye ngejreng begini, tapi setelah kena ledek Nyokap di Skype (katanya gue kayak tante-tante T___T) gue akhirnya memutuskan untuk beli yang warna pink muda untuk menyeimbangkan/melembutkan warna oranye menyala ini.

No. 9 (Baby Rose)


Swatch paling atas: Baby Rose. Tengah: Orange. Bawah: campuran yang biasa gue pake

Berkat ilmu campur mencampur lipstik yang gue wariskan dari Nyokap, gue akhirnya mendapatkan hasil akhir warna peach yang kadar warnanya bisa gue atur sendiri dari hasil gabungan dua lipstik ini.

Tekstur lipstik seri ini, meski full coverage, nggak sekering lipstik tipe matte yang biasa. Teksturnya creamy abis dan nggak terlalu bikin bibir kering. Tapi karena bibir gue jadi kering kerontang di sini, gue selalu pakai lip balm Neutrogena gue sebelum pakai lipstik.

Yang gue paling suka dari lipstik seri ini adalah resistensinya. Lipstik yang seri Ultra Glossy Stylo bisa ilang cuma dalam dua sampe tiga jam, tapi yang ini bisa tahan sampe lima jam. Abis makan pun masih ada bekasnya meski agak pudar (tergantung frekuensi lo ngelap mulut pas makan juga sih).

Untuk ke depannya, rencananya gue akan menambah koleksi produk Kiko gue dengan Compact Powder dan eyeliner (in case eyeliner super-mahal-hasil-kecelakaan L'Oreal gue udah abis). Mungkin juga produk untuk ngebenerin alis - kalau gue udah dapet revelasi untuk merapikan alis gue yang acak-acakan setengah modar.

Kiko untuk saat ini belum masuk Indonesia sih, tapi kalau suatu saat produk ini masuk Indonesia atau ada yang berminat beli saat lagi di Eropa, gue harap review gue cukup membantu untuk kalian.


Basic Skin Care Edition: Hijrah!

Setahun nggak ngepost? Cincai. Bukan masalah besar. Ngaku punya beauty blog tapi isi cuma satu review produk? Nggak ngaku juga sih, gue malah tadinya lupa kalo gue punya blog ini =w=

Jadi ceritanya postingan kali ini udah berselang setahun sejak gue bikin blog ini. Mungkin untuk yang belum tahu, gue kuliah di Prancis sejak September tahun lalu, lebih tepatnya di kota pelajar di kaki pegunungan Alpen; Grenoble.

Thinking that French weather makes your skin a lot better than Jakartan weather? Hell no.

Singkat kata, sejak gue tinggal di sini, kulit gue hancur minah.

Mungkin karena perbedaan kelembaban drastis antara udara Tangerang-Jakarta yang super lembab dengan udara sini yang kering kerontang, kulit gue yang cukup sensitif langsung bereaksi. Hasil: jerawat di mana-mana. Ditambah lagi uang saku bulanan gue nggak cukup untuk beli berbagai produk perawatan yang mumpuni buat menyelamatkan kulit gue.

Awal sampe di sini, untuk pelembab gue pake Nivea Crème yang super standar, yang bisa ditemuin di segala sudut dunia mulai dari Jerman, Prancis, Arab, sampe Indonesia:


A huge mistake. Krim ini terlalu berat untuk kulit muka yang cenderung lebih sensitif, ngeblok pori-pori dan bikin kulit gue jerawatan, berminyak luar biasa, dan komedo menumpuk. Setelah sekitar sebulan pemakaian akhirnya gue memutuskan untuk berhenti dan mengganti pelembab muka gue dengan krim Mixa untuk kulit sensitif, hasil rekomendasi dari temen gue. (Berbulan-bulan setelah itu, gue baru sadar kalo Nivea Crème ini jauh lebih ampuh kalau dipakai untuk hand and body lotion, bahkan lebih ampuh dari lotion Mixa yang tadinya biasa gue pakai).

Krim Mixa ini super enteng dan bener-bener melembabkan, apalagi di musim dingin yang keringnya minta ampun. Cocok untuk hampir semua jenis kulit dan bisa diaplikasiin di badan juga. Sampe hari ini krim ini masih gue pake tiap kali ke luar rumah karena kulit gue yang tadinya kombinasi cenderung berminyak jadi cenderung kering di sini, pengecualian untuk daerah T. Yang paling parah adalah area di sekitar mulut yang bisa kering kerontang dan jadi mengelupas mengerikan. Perih, pula.

Selama musim dingin, perawatan kulit yang paling dibutuhin emang pelembab, tapi ketika matahari udah muncul lagi, jelas kalau kita butuh krim tabir surya. Kebetulan krim tabir surya yang gue pake adalah uhuk warisan uhuk dari temen gue yang udah pulang ke Indo. Produknya Garnier, mengandung SPF50 dan perlindungan dari UV A dan UV B, sekali lagi untuk kulit sensitif.


Untuk bedak, gue masih pake bedak Maybelline Color Smooth All In One yang gue bawa dari Indonesia - yang gue juga heran kenapa nggak abis-abis sampe sekarang. Tapi kalau udah habis nanti gue berencana untuk ganti ke bedak kompek dari merek Kiko (gue akan bikin postingan khusus tentang kecintaan gue pada produk-produk Kiko).

Beralih dari kulit, gue bakal ngebahas perawatan bibir. Seperti yang kita tau, di iklim kering begini, bibir kita gampang banget terpengaruh. Bibir kering nggak cuma nggak enak dilihat, tapi juga bikin sakit, apalagi kalau udah ngebelah dan berdarah saking sakitnya.

Awalnya dengan polosnya gue masih pake lip balm Maybelline Baby Lips yang gue bawa dari Indo, tapi setelah tiga minggu gue sadar bahwa lip balm ini nggak ngefek sama sekali, gue akhirnya pake tester lip balm L'Occitane yang gue dapet dari pouch gratisan L'Occitane punya bokap gue.

Jujur aja lip balm ini dewa banget. Sekali pake langsung lembab abis. Tapi sayangnya setelah tester gue yang cuma 2,5 gram habis dalam sebulan, gue nggak sanggup untuk beli lagi karena untuk sebatangnya gue harus merogoh kocek sebanyak 6 euro. Beuh. Gue akhirnya, berdasarkan saran temen-temen gue, beralih pada lipbalm Être Bien dari Parashop yang sebatangnya nggak sampe 2 euro.

Maaf nggak ada foto yang lebih oke UwU

Lip balm Être Bien ini, meski nggak seoke yang L'Occitane, cukup oke untuk ngejaga bibir dari kekeringan. Wangi vanilanya juga enak. Cuma gue kurang suka hasilnya setelah diaplikasiin karena jadi terlalu berminyak dan bibir gue kelihatan terlalu basah, ditambah lagi bikin lipstik jadi nggak terlalu nempel di kulit. Setelah lip balm ini habis, gue akhirnya beralih ke lip balm Neutrogena.

Lip balm yang ini masih gue pake sampe sekarang dan nyaris seoke yang L'Occitane. Kurangnya, efeknya nggak bertahan terlalu lama dan harus diaplikasiin ulang secara berkala. Tapi efek repairingnya itu luar biasa, bibir yang udah kering kerontang bisa selamat pake lip balm ini. Secara keseluruhan gue lebih suka pake yang ini daripada yang Être Bien.

Dari bibir kita lanjut ke perawatan umum muka, yang paling dasar: sabun cuci muka. Pertama nyampe, gue pake sabun cuci muka yang mereknya paling familiar buat gue, Nivea. Gue pake Nivea Mousse Nettoyante yang ini:

Sebenernya sih produk ini oke, cuma berhubung kulit gue yang sepertinya ditakdirkan untuk berjerawat luar biasa di sini, jerawat mulai dari yang cuma seperintil sampe yang batu tetep muncul dan bikin gue stres dan akhirnya memutuskan untuk ganti sabun cuci muka. Gue lalu ganti ke Neutrogena Skin Stress Control dengan harapan bisa mengurangi jerawat yang muncul.

Sialnya, produk ini mengandung scrub dan sejak dulu kulit gue nggak pernah cocok untuk pemakaian scrub untuk sehari-hari. Jadilah jerawat gue makin parah dan mengerikan. Pas produk ini habis, gue dikasih produk Neutrogena lain sama temen gue, yang Deep Clean Nettoyante/Masque, jenis yang nggak ada scrubnya dan bisa jadi masker ketika diaplikasiin langsung tanpa dijadiin busa.


Awalnya pakai ini jerawat gue lumayan berkurang, tapi karena gue sempet mengalami periode stres berat, jerawat gue kembali muncul. Gue akhirnya memutuskan menyerah dalam pencarian sabun cuci muka yang tepat dan memutuskan untuk kembali ke yang paling basic: Dove Beauty Cream Bar.


Produk yang juga bisa ditemuin di seluruh sudut dunia ini gue pake sejak awal Mei dan nggak bikin muka gue kerasa ketarik-tarik kayak si Neutrogena Deep Clean, nggak juga bikin kulit kering. Bener-bener cuma membersihkan. Gue pribadi sih ngerasa kalo kulit gue jadi lebih lembut setelah pakai ini.

Di samping sabun cuci muka, untuk pembersih make up gue pake produk Gemey Maybelline Démaquillant yang ampuh untuk menumpas maskara waterproof paling bandel sekalipun dan mengangkat semua sisa bedak.



Tapi berhubung gue di sini jadi sering pakai maskara biasa yang nggak waterproof, gue juga pake Mixa Eau Nettoyante Apaisante untuk ngebersihin make up sebelum cuci muka.



Untuk rambut, karena gue berhijab, sampo anti ketombe masih jadi andalan gue. Awalnya gue pake sampo abal-abal yang paling murah di Carrefour saking ngiritnya, tapi ketombe gue malah menggila. Gue akhirnya beralih ke Head and Shoulder, tapi karena bikin rambut gue kering dan rontok, akhirnya gue ganti ke sampo L'Oreal Anti Dandruff.


Meski agak mahal (4,5 euro sebotol!), seenggaknya sampo ini bikin kulit kepala gue nyaman dan rambut gue tetep se-fabulous biasanya (meski nggak ada yang lihat juga).

Yap mungkin cukup sekian untuk curcol gue tentang perawatan selama di sini. Maaf kalau kepanjangan, semoga membantu para wanita Indonesia yang akan bertarung dengan segala perbedaan iklim dari di Indo ke sini. See you on the other posts!